Dear Leader Boss

Juni 16th, 2011 by muthie

Indonesia sedang krisis kepemimpinan, begitu katanya. Kita tidak percaya pada kapabilitas bapak dan ibu yang sedang rapat di gedung DPR sana, mengkritik kebijakan pemerintah, dan bergosip soal boss kita saat makan siang.

Entah bagaimana, belakangan kita begitu sulit menemukan sosok pemimpin yang layak menerima kepercayaan, pengabdian dan kerja keras kita. Mungkin, karena para “pemimpin” ini juga sedang kesulitan menemukan diri mereka. Mereka sedang terbelit-belit diantara sosok pemimpin dan boss.

Bagaimana membedakan pemimpin dan boss? Mudah.
Seorang pemimpin akan membuat kita memberikan lebih dari apa yang diinginkannya. Kita bahkan bersedia melebarkan ruang kapasitas kita untuk memenuhi targetnya, dan tetap tersenyum senang. Mereka begitu menginspirasi dengan kecerdasan dan kapabilitasnya, antusiasme yang tidak pernah padam, pembawaan yang tenang dan selalu bisa diandalkan dan sikap yang selalu positif.

Seorang pemimpin memperlakukan subordinatnya sebagai anggota tim. Ia memberi porsi tanggung jawab yang cukup dan mengakomodasi semua kebutuhan timnya. Ia juga selalu memastikan subordinatnya mendapat pembelajaran baru yang memadai. Seorang pemimpin selalu mencetak pemimpin- pemimpin baru.

Boss? Sebaliknya.
Betapapun mereka membentak, memasang muka galak dan melakukan tindakan intimidatif lainnya, kita tak pernah ingin memuaskan mereka. Semakin sebal mereka, semakin bahagia kita.

Boss selalu berusaha terlihat angkuh dan berkuasa, karena jauh di dalam hati mereka, mereka tak yakin atas penghormatan yang diberikan bawahannya untuk mereka. Mereka bertanya- tanya sendiri mengapa mereka belum juga mendapatkan penghargaan yang mereka inginkan.

Seseorang menjadi ‘boss’ dan bukannya ‘pemimpin’ karena mereka tak berhasil memperbaiki satu atau lebih kekurangan yang mereka miliki. Mereka mungkin kurang menguasai bidangnya sehingga bekerja tanpa arah dan terlampau mengandalkan subordinatnya untuk mengerjakan semua tanggung jawabnya. Mereka mungkin kurang memiliki kepekaan emosional untuk dapat mengenali kebutuhan subordinatnya dan memotivasi mereka. Mereka mungkin kurang dewasa secara emosional sehingga tidak bisa menjaga antusiasmenya sendiri, atau kerap menunjukan ekspresi yang lemah dan tidak bisa diandalkan. Boss Anda punya semua kekurangan itu? Tell him to go to hell.

Menjadi pemimpin selalu lebih menguntungkan; selain karena lebih dicintai, pemimpin akan selalu mendapatkan hasil kerja yang memuaskan. Timnya bersedia memberikan hati, pemikiran dan kerja keras terbaik mereka untuknya. All credits? Fall for him, for sure.

Sedangkan boss? Hmm,, jangan terlalu banyak berharap, teman. Kemungkinannya hanya dua; hasil kerja yang berantakan dan semua orang membenci Anda, atau hasil kerja yang memuaskan dan semua orang lebih membenci Anda.
Cheerio! ;)

Indonesia tanpa Film Hollywood; Let’s Imagine! :D

Februari 19th, 2011 by muthie

Hollywood berhenti memasarkan film- filmnya di Indonesia. Berita ini mengejutkan buat saya dan saya yakin banyak orang lainnya.

 Apalagi, begitu tahu alasannya karena Direktorat Jendral Pajak membebankan pajak baru berupa bea masuk atas hak distribusi yang besarnya 23,75 persen atas nilai barang. Dikutip dari detik.com, Hollywood tidak keberatan atas nominal yang diajukan, tapi mereka menolak karena merasa hal ini tidak wajar. Indonesia adalah satu- satunya negara yang memberlakukan bea masuk ini.

\"\"

 picture13

Well, saya tidak bisa membahas terlalu banyak dari segi perpajakan dan ekonomi, tapi mari kita bayangkan apa jadinya Indonesia tanpa film- film Hollywood.

 

Ayo kita mulai dari kemungkinan- kemungkinan positifnya;

#1 Production House Indonesia mendulang untung

Film- film Indonesia akan menguasai pasar negeri sendiri dan penonton tak punya opsi lain kecuali menonton mereka. Hal ini bisa menimbulkan 2 kemungkinan lain; 1.Film Indonesia berkembang jadi lebih berisi, kreatif dan canggih karena para sineas punya ruang gerak yang lebih luas atau 2. Film Indonesia semakin buruk kualitasnya dan bersifat “asal buat” karena toh tak ada saingan.

\"\"

 

#2 Bisnis TV Kabel melejit naik

Untuk mendapatkan tontonan yang sungguhan menghibur, banyak orang akan bersedia merogoh kocek lebih dalam. Hal ini lebih aman dan menguntungkan daripada mati bosan menonton sinetron atau pergi ke bioskop dan mendapati film tak jelas. Sayangnya, tak semua orang mampu membeli jaringan TV Kabel.

 

Kemudian, kemungkinan- kemungkinan negatifnya:

#1 Banyak bioskop akan bangkrut dan tutup

Tanpa adanya film-film berkualitas yang perlu kita akui lebih banyak datang dari Hollywood, jutaan pecinta film akan mengurangi frekuensi kunjungan mereka ke bioskop. Akibatnya jelas, omzet bioskop akan turun, semakin banyak yang menyerukan kebangkrutan kemudian tutup. Sedihnya, hal ini juga berarti hilangnya lapangan pekerjaan untuk banyak orang.

\"\"

 

#2 Kualitas film Indonesia masa depan menurun drastis

Hal ini disebabkan generasi muda kita kehilangan akses mudah pada film-film yang bermutu. Dengan pengalaman produksi film hampir satu abad, tak mengherankan jika Hollywood mampu menyajikan film yang lebih kaya dari segi ide dan jalan cerita, lebih ciamik secara penyutradaraan, akting, efek dan hal teknis lainnya. Tanpa benchmark dan good case practice dari film- film ini, sineas masa depan kita akan miskin ilmu dan contoh film yang baik. Akibatnya, film- film Indonesia masa depan kita tak akan terjamin mutunya.

\"\"

 

Saya pribadi tak setuju jika film Hollywood hilang dari Indonesia. Lebih dari sekedar hiburan, masyarakat kita perlu untuk tetap terhubung pada perkembangan seni, budaya dan pendidikan internasional, dan film adalah salah satu media yang paling terjangkau untuk mendapatkannya. Lagipula, saya tidak rela menonton \”Jenglot Pantai Selatan\” untuk menggantikan \”Harry Potter and The Deathly Hallows- Last Part\” 

\"\"

 

Sehubungan dengan keputusan Dirjen Pajak, saya yakin penetapan bea masuk, cukai, atau pajak untuk bisnis apapun bukan solusi terbaik untuk meningkatkan pendapatkan Negara. Salah- salah, tindakan ini bisa membunuh industri yang ingin berkembang. Dirjen Pajak harusnya membersihkan diri dulu sebelum berniat mendulang lebih banyak uang. Jika oknum macam Gayus masih ada dan Satpol PP masih menggerayangi pelaku- pelaku bisnis kecil untuk minta jatah, harusnya kita sadar ada hal lain yang lebih fundamental untuk diperbaiki.

 

Sedikit emosional; Please, kita sudah sering kesulitan mendapatkan birokrasi yang jelas, sistem hukum yang mantap dan kondisi ekonomi yang stabil. Jangan sampai kita kesulitan mendapatkan hiburan juga >_<

 

 

 

 

 

 

 

Sabar; A New Perspective

Februari 7th, 2011 by muthie

Belakangan kata sabar ini semakin sering muncul di telinga saya dan banyak orang lainnya.

 

Macet total… sabar.

Harga bensin naik… sabar.

Biaya masuk kuliah mahal… sabar.

Birokrasi berbelit- belit… sabar.

Mafia pajak masih ada… sabar.

 

 

Apa sih, sabar ini sebenarnya? Kenapa seolah- olah kita jadi hidup untuk bersabar?

 

Saya bukan seorang penyabar, ada alasannya. Buat saya, bersabar berarti menunda penyelesaian. Bersabar adalah solusi normatif jika kita sedang mengalami kebuntuan. Bersabar bernilai konotatif dengan menyerah. Selain itu, saya mengalami sindrom geregetan dan sedikit gatal- gatal jika dibilang, ”Udah, sabar aja yaa… ” hehehe agak lebay, memang. Tapi saya butuh solusi, kawan.

 

Sampai, saya disini sekarang. Tuhan seolah merentangkan tanganNya di jalan saya dan bilang,

 

”Oke, stop. Jangan menghindar lagi. Kamu harus belajar bersabar. Right here, right now

 

 

Saya tidak akan bercerita banyak, tapi intinya saya menghadapi beberapa situasi yang membuat saya tidak bisa memberi respon selain menarik napas panjang dan mengurut dada. No way out. Point of no return. Saya terserang sindrom gregetan dan gatal- gatal yang parah. Belakangan diperkeruh dengan migraine sedikit. *Colek dikit langsung curcol.

 

Lalu, saya membaca 3 buah literatur yang datang nyaris bersamaan. Tuhan masih merentangkan tanganNya di jalan saya, tapi menyodorkan sesuatu,

 

“Nih, ada diktat sedikit. Baca dulu!” kira- kira begitu kataNya.

 

Yang pertama dalah novel ”Ranah 3 Warna” oleh A. Fuadi. Sebuah pepatah Arab kuno yang dimuat dalam buku ini kini menjadi motto hidup saya.

 

 

Man sabara zhafira” – Siapa yang bersabar akan beruntung.

 

Novel ini menjabarkan dengan sangat bijak makna bersabar yang sesungguhnya. Bersabar bukan berarti pasrah dan menyerah. Bersabar adalah kesadaran penuh untuk bertahan menghadapi situasi yang bisa jadi memojokkan. Bersabar adalah cobaan kedewaasaan untuk menerima hal- hal yang tidak kita inginkan. Bersabar adalah menanti waktu yang paling tepat untuk bertindak.

 

 

 

Literatur kedua adalah buku ”7 Habits of Highly Effective People” dari Stephen Covey. Meski tidak secara khusus membahas kesabaran, buku ini menjelaskan perbedaan antara sikap proaktif dan reaktif dalam menghadapi berbagai situasi. Menurut Covey, bersikap proaktif tidak selalu berarti langsung menemukan solusi dan bertindak cepat setiap menemui masalah.

Sikap proaktif justru seringkali terwujud dalam cara kita memahami situasi yang tidak menguntungkan dan menerimanya dengan lapang dada sebelum kemudian memutuskan cara kita meresponnya. Dan jika ternyata masalah itu diluar kontrol kita, sikap paling proaktif yang bisa kita berikan justru adalah diam dan menerima. Menurut saya, ini juga bentuk lain dari bersabar. Sabar berarti proaktif.

 

 

Literatur ketiga adalah SMS renungan yang dikirim oleh Ibu saya,

“Kalau semua yang kita mau harus terpenuhi, lalu dari mana kita mendapat pelajaran kesabaran?”

”Kalau apa yang kita inginkan harus kita miliki, lalu dari mana kita mendapat rasa keikhlasan?”

”Kalau kehidupan yang kita jalani selalu bahagia, lalu dari mana kita merasa dekat dan butuh dengan Sang Pencipta?”

 

 

Jadi saya rasa, pesan untuk saya jelas. Saya harus belajar bersabar. Bersabar adalah bentuk lain dari kebijakan dan kedewasaan. Bersabar memerlukan energi yang besar untuk menahan reaksi, emosi dan keinginan untuk melakukan semua hal yang jika dikerjakan saat ini, justru akan membawa efek yang kurang baik.

 

Saya ibaratkan seperti ini; kita hidup seperti menyetir di jalan raya, dan bersabar seperti halnya kita harus berhenti di lampu merah atau kemacetan. Ya, kita tidak bisa selalu menyetir dengan kecepatan penuh, ada saatnya kita harus menginjak rem dan menetralkan gigi untuk sekedar mengendurkan tangan dan kaki, menikmati lagu di radio dan melihat-lihat pemandangan di sekitar. Jika kita memaksa untuk tetap berjalan, justru hasil yang tidak baik akan kita dapatkan.

 

 

Well, itulah proses saya belajar bersabar. Semoga bisa memberikan pencerahan bagi yang sedang mempelajari hal yang sama. Mari tetap bersabar dan berpikir positif. Seperti Katy Perry bilang,

 

”Maybe the reason why all the doors is closed, so you could open one that lead you to the perfect road”  

J

 

 

 

 

 

 

 

“Pin lo Berapa?”; Blackberry Rules!

Desember 10th, 2010 by muthie

Blackberry is ruling us. Ya, itu benar. Anda pasti sudah menemukan indikator- indikatornya;

1. Daripada bertanya nomer HP, orang terlebih dahulu menanyakan nomer pin.

2. Ketika kita bilang kita tidak pakai BB, orang tersebut akan kaget dan bilang, “Loh, kok bisa kamu belum pake BB?” dengan cara yang sama seolah kita lupa pakai celana.

3. “Ntar gue SMS, ya” berganti dengan “Ntar gue BBM, ya” dan itu membuat teknologi SMS terdengar seperti pager.

Blackberry benar- benar telah membuat fenomena. Baik dari segi teknologi maupun budaya.

Tapi, setidaknya menurut saya, prestasi terbesar Blackberry bukan terletak pada terobosan teknologinya, melainkan kemampuannya menciptakan sebuah budaya baru, cara hidup yang baru. It’s BB way of life, dan negara kita adalah yang paling banyak terimbas.

Harus kita akui, Blackberry memulai kegiatan pemasarannya dengan sangat cantik. Di awal tahun 2009, mereka memberikan produk mereka secara gratis dan terbatas pada sejumlah A-Lister Hollywood. Entah siapa mengendorse siapa, kita lantas dengan mudah menemukan (di kolom gosip, tentu saja) Vic Beckham, Lindsay Lohan, Paris Hilton dan selebriti dunia lainnya mondar- mandir di Fifth Avenue dan Upper East Side neighborhood sambil menenteng Blackberry mereka.

Di poin ini, Blackberry berhasil menciptakan brand image bahwa produk dan pemakainya sophisticated, smart, highly updated dan glamor.

Lalu, trend Blackberry bergulir dahsyat seperti bola salju. Terutama setelah ia mengeluarkan varian Blackberry Gemini yang harganya relatif terjangkau. Dan FB serta Tweet deck kita mulai penuh dengan notifikasi dari teman- teman yang mengupdate status atau mengomentari foto setiap paling tidak 5 menit sekali. Fiuh.

Fenomena ini tidak hanya terlihat di dunia maya. Di dunia nyata pun, kita bisa menemukan gejala BB trend. Saya yakin Anda pasti pernah menemukan peristiwa seperti ini:

  1. Teman yang selalu menunduk dengan BB di tangan dan terkikik- kikik sendiri, meskipun kita sedang duduk bergerombol di cafe. Nope, it’s not autism, it’s just BB phenomenon :p 
  2. “Eh, ntar BBMan yaa… ” semakin sering terdengar
  3. Teman yang nyaris tidak pernah terlihat tanpa BB di tangan kanan. Saat makan, menyetir, bahkan ke WC
  4. Provider- provider mulai menyediakan berbagai paket untuk Blackberry
  5. Tiruan- tiruan Blackberry mulai bermunculan. Dari Nexianberry hingga Blueberry

Blackberry sudah pasti memiliki banyak fungsi positif. Jika digunakan sebagaimana fungsinya, penggunanya tentu akan lebih update dengan situasi terbaru dunia; dari berita di kompas.com hingga index saham, lebih produktif secara karir karena dapat langsung mengakses email kantor, dan lain sebagainya.

Tapi, menurut saya agak menyedihkan kalau kita menggunakan Blackberry hanya karena gatal ingin mengakses social media sesering mungkin, ingin bermessanger dimana saja, atau simply karena tidak ingin ketinggalan dengan yang lain. It’s sot sophisticated, it’s just fragile (baca= labil).

Akan lebih bijaksana kalau kita menggunakan suatu produk lebih karena mempertimbangkan fungsinya, bukan image atau trend yang dibawanya. Ini tentu berlaku untuk semua benda bukan hanya Blackberry. Costly stuffs are those that we buy and regret afterwards because we don’t really need it. Lagipula, Anda tidak akan terlihat keren menenteng Blackberry jika ternyata tidak bisa menguasai semua fiturnya. Teknologi lebih akrab dengan fungsi daripada gaya.

Selain itu, ingatlah bahwa BBM tidak lebih intim dari direct communication. Bersilaturahmi dengan teman lama nun jauh disana jadi tidak berarti jika ketika melakukannya kita jadi terlalu asyik dengan Blackberry, dan melupakan teman- teman yang tengah duduk semeja dengan kita. Blackberry tidak seharusnya membuat kita menjadi anti-sosial.

Saya sendiri belum menggunakan Blackberry hingga sekarang. Kebutuhan saya secara sosial dan karir hingga saat ini bisa dipenuhi oleh E 72 andalan saya, jaringan internet kantor, modem di rumah, serta majalah dan koran. Tapi tidak menutup kemungkinan saya akan membutuhkan Blackberry nantinya, well, bisa setahun atau sebulan lagi.

Let’s use Blackberry because we need it, not because it looks cool.

It’s should be US ruling our Blackberry, not the opposite.

STNK dan Warna Kendaraan; Curhat Terdakwa XD

Nopember 20th, 2010 by muthie

Akhirnya saya mendapatkan surat tilang pertama saya. Yay!

*efek suara applause.

 Kejadiannya tanggal 19 November 2010 sekitar pukul empat sore di bundaran Simpang Lima, Semarang. Saya sedang menyetir dengan santai ketika tiba- tiba saya diberhentikan oleh sekelompok polisi yang sedang melakukan operasi sekaligus pelatihan praktek untuk para calon- calon polisi (umm,, saya tidak tahu istilahnya, pokoknya polisi yang masih belajar di akpol).

Pak Polisi         : ”Nah, ini ya kesalahan Mbak. Warna mobil Mbak di STNK kan HIJAU. Coba Mbak lihat  warna  mobilnya. Ini warna apa?”

Saya                 : ”Hijau Pak”

Pak Polisi         : ”Berarti Mbaknya buta warna. Ini kok HIJAU. Ini tuh KUNING!”

Saya                 : ”HIJAU ah Pak” *tersinggung dibilang buta warna ”Kekuning-kuningan sih”

Pak Polisi         : (bicara pada calon polisi) ”Tuh kamu lihat. Tadi saya berhentikan karena feeling saya bilang ada yang salah. Warna mobil ini nggak standar dari dealer, ada perubahan, dan ternyata nggak dirubah toh di STNKnya. Polisi yang baik itu biasanya feelingnya benar. Iya kan ini warnanya KUNING?”

Calon Polisi      : (cengar-cengir) ”Iya Pak, kuning… hehehe”

Saya                 : ”Yah, terang aja lo bilang kuning, ngikut aja sama seniornya. Lagian Pak, salah polisinya yang dulu bikin STNKnya dong. Kalo emang ini KUNING, kenapa dia tulis HIJAU, hayo?”

Pak Polisi         : ”Polisi kan waktu bikin STNK nggak lihat mobilnya gimana, Mbak. Orangnya mendaftarkan HIJAU ya kita tulis HIJAU”

Saya                 : ”Lah, nggak lihat mobilnya kok main approve aja pengajuan STNKnya?”

Pak Polisi         : ”…………. . Udah Mbaknya, ikut aja. Mbak saya TILANG!”

 

 

 

191120104611

kuning atau hijau? hijau kekuningan atau kuning kehijauan? :D

 

Nah, yang ingin saya highlight disini; semakin lama, produsen mobil akan semakin kreatif mengembangkan warna untuk body mobil. Akan semakin banyak warna kombinasi yang sulit dideskripsikan sebagai satu warna konkrit. Misalnya; merah, ungu dengan marun. Jingga dengan oranye. Pink dengan fuschia.

Perbedaan persepsi seseorang dalam mendeskripsikan suatu warna akan menjadi sumber masalah yang konyol, dan kita sebagai pengendara biasa sudah pasti kalah suara dengan bapak- bapak yang bertitel aparat, meski mereka belum tentu lebih ahli dalam pendeskripsian warna.

 

ungu? pink?

ungu? pink?

 

 

Saya rasa, sudah saatnya pihak kepolisian mengembangkan mekanisme pembuatan STNK, terutama dalam mendeskripsikan warna kendaraan. Akan lebih baik jika dilampirkan foto kendaraan atau pan tone dari warna kendaraan untuk deskripsi yang lebih jelas. Sehingga, kasus tilang seperti saya kemarin tidak terulang lagi.

 

Sebaliknya, para pengemudi jika mengganti warna kendaraan sebelum jatuh tempo perpanjangan STNK, harus segera melapor ke kepolisian. Ayo… jadi warga negara yang baik.

 

 

 Anyway, saya sekarang berstatus Terdakwa, dan saya akan sidang pada tanggal 3 Desember 2010. Wish me luck! Hehehe

 

kenapa juga ilustrasinya mesti cut tari? eh tapi saya cuma terdakwa tilang kok,, betul,,

kenapa juga ilustrasinya mesti cut tari? eh tapi saya cuma terdakwa tilang kok,, betul,,

 

Sentimen Publik dan Perbedaan Agama; Be Wise!

September 18th, 2010 by muthie

Indonesia sedang berada di ambang sebuah krisis yang pelik. Krisis ini perlu mendapat perhatian sama besarnya dengan krisis moneter, kemiskinan, dan korupsi. Krisis ini disebut sentimen publik.

Sentimen publik memiliki potensi bahaya yang besar bagi stabilitas nasional karena mempengaruhi keharmonisan dua kelompok berbeda dengan merusak aspek hubungan yang paling fundamental, yaitu perspektif. Sekali sentimen publik ini meledak ke permukaan dalam bentuk konflik, maka akan sulit sekali untuk memperbaiki, atau setidaknya merubah perspektif antara dua kelompok yang berseteru.

tolerance4

Saat ini, krisis sentimen publik tengah menyerempet perbedaan- perbedaan yang paling sensitif, antara lain kepercayaan dan agama.

Dikobarkan oleh insiden penusukan jemaat HKBP dengan sejumlah oknum FPI di Bekasi sebagai tersangka, sentimen antara dua agama mulai tumbuh. Di situs- situs jejaring sosial mulai muncul opini-opini yang mengecam FPI, quote tajam tentang toleransi dan kebebasan beragama, dan seterusnya.

Hal ini menyedihkan, sebenarnya, mengingat Indonesia adalah bangsa yang plural dan selalu berhasil mempertahankan perdamaian dan ketenangan di tengah pluralitas itu. Indonesia selalu menjadi bangsa yang jamak dan bertoleransi tinggi terhadap perbedaan. Ketika hal ini mulai goyah, alarm tanda bahaya harusnya sudah berbunyi.

tolerance

Saya tidak akan membahas lebih lanjut mengenai kasus penusukan ini, apalagi menentukan mana yang benar atau salah berdasarkan penelusuran gagasan- gagasan dalam agama dan organisasi yang menaungi dua kelompok yang bertikai. Saya tidak memiliki kompetensi untuk itu, dan saya sadar sedang membicarakan isu yang luar biasa sensitif.

Tapi, yang saya yakini, kita semua harus bijak menyikapi krisis ini. Untuk tidak memberi opini apalagi provokasi tanpa benar- benar mengerti duduk masalah sebenarnya. Untuk bisa berpikir lebih luas dan sensitif dengan mempertimbangkan perasaan pihak yang akan mendengar buah pikiran kita. Untuk tidak menilai satu kelompok yang besar berdasarkan perilaku segelintir orang.

tolerance3

Kita perlu mengingat, cara kita menilai seseorang seharusnya tidak didasarkan pada apa yang dikenakan atau dirapalkannya, bagaimana caranya melakukan ritual keagamaannya, dan sebagainya; melainkan bagaimana caranya memperlakukan orang- orang disekitarnya.

Toleransi dan pluralitas kita adalah harta yang luar biasa berharga. Selamanya harus selalu begitu. Sebab di negara ini tak ada tempat untuk sekelompok orang yang keras kepala, egois, dan mengatas namakan Tuhan untuk memenuhi kebutuhan ego mereka.

Di lain pihak, sudah saatnya badan yang lebih besar (baca: DPR) untuk menjadi pihak yang netral untuk mendinginkan konflik ini. Daripada sibuk dengan rencana pembangunan gedung kelewat mewah dan studi banding yang tidak perlu, ada baiknya mereka membuka forum untuk mengcounter opini publik yang mulai berkembang. Menengai kesalah pahaman dan mengembalikan derajat toleransi beragama bangsa ke kondisi yang stabil. Saya rasa hal ini akan menjadi langkah yang bijak untuk sedikit mengurangi sentimen publik yang sudah tumbuh menahun kepada DPR ;)

tolerance2

Jadi demikianlah, tidak ada yang lebih baik yang bisa saya sarankan selain tetap berkepala dingin menghadapi isu ini; beragama dengan bebas tapi bertanggung jawab, tidak memaksakan kehendak dan pemikiran kepada orang lain, menghargai perbedaan, dan selalu berpikir untuk kebaikan orang banyak. Semoga bermanfaat.

Let’s Work Happily!

Juli 2nd, 2010 by muthie

Hal paling menyenangkan dari suatu pekerjaan, adalah ketika pekerjaan itu selesai, hehehe.

Karena itu, semua orang berusaha menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin. Bekerja cepat tidak harus selalu berkonotasi dengan kesibukan, beban, stress dan lembur tiap malam. Sebenarnya, ada cara- cara yang dapat kita lakukan untuk mempermudah dan mempercepat pekerjaan kita.

Mempercepat penyelesaikan suatu pekerjaan memberi kita keleluasaan lebih untuk bersantai dan menikmati hidup. Apa saja caranya? Here we go…

 

1.       Use All Resources Available

Pahami semua data yang tersedia (dan terbaru) untuk mendukung pekerjaan Anda; data market share, penjualan harian, aktivitas kompetitor dan lain sebagainya. Jangan malas untuk mengulas dan menganalisa data- data itu, karena mereka dibuat untuk mempermudah pekerjaan Anda.

Selalu gunakan data- data yang tersedia sebagai dasar keputusan, strategi dan ide yang Anda ajukan. Selain dapat membantu Anda menyusun strategi yang tepat dan fokus, data- data ini akan menghindarkan Anda dari kecenderungan berspekulasi dan menebak- nebak.     

2.       Don’t Overdone Someone Else’s Job

Anda harus tahu batas- batas job description Anda dengan rekan Anda, dan antara divisi Anda dengan divisi tetangga. Hindari mengambil alih atau mengerjakan ulang pekerjaan orang lain tanpa konfirmasi. Pertama, karena tindakan ini membuang- buang waktu dan energi Anda. Kedua, karena bisa membuat rekan Anda merasa Anda melangkahi wewenangnya. Ketiga, karena Anda belum tentu memahami keseluruhan pekerjaan itu.

3.       If It Could be Delegated- Just Give It Away

Jangan memaksa diri mengerjakan semuanya sendirian. Manfaatkan bawahan Anda (jika punya) dengan mendelegasikan sejumlah tugas padanya. Kuncinya, Anda harus tahu kemampuan bawahan Anda mengerjakan tugas dan Anda harus mampu memberikan instruksi dengan jelas. Pendelegasian tugas dapat membantu bawahan Anda belajar lebih banyak dan mengurangi beban kerja Anda sendiri. Sedikit saran, sebaiknya Anda membuat instruksi dalam bentuk tertulis pula, untuk menghindari bawahan Anda melupakan sesuatu.

 

4.       Do Not Delay

Anda tidak pernah tahu jika besok si bos memberi tugas mendadak, atau ada masalah yang tiba- tiba muncul. Karena itu, jangan biarkan pekerjaan Anda menumpuk. Kerjakan secepatnya semua pekerjaan yang bisa Anda lakukan sekarang. Saran ini mungkin terdengar menyebalkan, tapi Anda akan bersyukur ketika menemui suatu sore dimana Anda tak lagi punya pekerjaan yang harus deselesaikan dan Anda bisa pulang kerumah pukul 5 tepat.

5.       Always Use Only The Fastest and Easiest Way

Jika bisa menelpon, jangan beranjak dari kursi Anda. Jika bisa menghitung otomatis dengan software, hindari menghitung manual dengan kalkulator. Jika yang dibutuhkan hanya esensi, hindari membuat terlalu banyak animasi pada presentasi Anda. Selalu temukan cara tercepat dan termudah- yang valid tentu saja- untuk mengerjakan segala sesuatu. Cara ini akan menghemat waktu dan tenaga Anda, sehingga Anda bisa mengerjakan hal lainnya dengan segera.

6.       Keep All The Documents Neatly

Simpan semua dokumen penting Anda dengan rapi, baik yang berbentuk hardcopy maupun softcopy. Anda tak pernah tahu kapan lagi akan membutuhkannya; karena itu pastikan Anda dapat selalu menemukan mereka dengan mudah. Jangan lupa juga untuk segera membuang dokumen- dokumen yang tak dibutuhkan, sehingga arsip Anda tidak kelewat penuh.

7.       Get Along Well With People Around You

Binalah hubungan baik dengan orang- orang di sekitar Anda. Jika mereka meminta bantuan atau informasi dari Anda, responlah dengan cepat. Hubungan baik bisa sangat memudahkan pekerjaan Anda. Kelak, Anda tak perlu menemui kesulitan untuk meminta data konsumen ataupun pembelian dari divisi sebelah.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah menyukai pekerjaan itu sendiri. Saya sangat menyarankan untuk tidak memilih bidang pekerjaan yang kurang Anda sukai, sejak awal. Anda harus bisa menikmati seluruh aspek hidup Anda, termasuk pekerjaan.

Lalu, tempo bekerja Anda sebaiknya tidak tergantung pada deadline, melainkan habit. Performa kerja Anda sesungguhnya dinilai dari bagaimana Anda membiasakan diri bekerja secara efektif dan efisien. Fokus, jangan mengerjakan yang tidak perlu, tepat waktu, dan nikmati semuanya.

Love your job, and it’ll love you back…    

Inspirasi dari Gayus; Kaya= Bahagia?

Maret 29th, 2010 by muthie

Belakangan saya mengikuti perkembangan kasus Gayus Tambunan. Tentang ia yang seorang pegawai menengah di Dirjen Pajak, namun isi rekeningnya 25M, dan rumahnya yang berubah drastis hanya dalam waktu 5 tahun.

Saya tidak ingin menghakimi yang bersangkutan karena masalah ini sungguh diluar kredibilitas saya. Hanya saja, ada satu pemikiran yang saya dapatkan dari kasus ini (dan kasus- kasus korupsi lainnya).

“People can go so far for money”

Manusiawi, siapa pula yang tak ingin banyak uang? Lebih banyak uang berarti lebih banyak pintu terbuka yang untuk kita. Pintu restoran mewah, pintu pesawat kelas I, pintu butik mahal, pintu universitas di luar negeri…

Tapi, apakah semua materi itu yang membuat kita bahagia? coba pikir lagi.

Menurut saya, yang membuat kita bahagia sesungguhnya bukanlah keberadaan suatu benda secara fisik, melainkan makna benda itu untuk kita.

Misalnya, saya mendapatkan dua buah Blackberry Storm *ngarep. Satu saya dapatkan dari pacar saya sebagai hadiah ulang tahun. Satunya lagi hadiah dari teman saya karena sudah menutupi penggelapan uang yang dilakukannya di kantor. (Cerita ini fiksi)

Benda yang persis sama. Tapi, sudah jelas kan, mana yang lebih membuat saya bahagia?

Apapun yang kita lakukan, kita beli dan kita hasilkan, sesungguhnya kita hanya mencari satu hal dari itu semua: kebahagiaan. Kita makan di restoran mahal, berbelanja baju yang mahal, membeli rumah dan mobil yang mahal; sesungguhnya, yang kita cari adalah perasaan bahagia dan puas setelah memiliki itu semua.

Tapi, masihkan Anda puas membeli sebuah gaun mahal, jika disaat yang sama Anda tahu suami Anda juga membelikan gaun yang sama untuk selingkuhannya?

Bisakah Anda berbahagia makan di restoran yang mewah, jika alasan Anda makan disana adalah karena istri Anda kurang peduli untuk pulang dan memasak untuk Anda?

Apakah Anda bahagia pesiar ke Singapura, jika alasan Anda berada disana adalah untuk menghindari penangkapan polisi akibat kasus korupsi Anda di Indonesia? (no offense, Om Gayus :p)

Saya rasa kita semua harus lebih dulu mendefinisikan arti bahagia sebelum mulai mencarinya. Jangan sampai kita menjadi seperti orang- orang yang kalap mengumpulkan materi, membeli segala macam properti mahal dan tetap bertanya- tanya mengapa mereka belum juga merasa utuh dan bahagia.

Saya pribadi, merasakan kebahagiaan itu ketika berada di tengah orang- orang yang paling saya sayangi. Keluarga, pacar, dan teman- teman saya. Saya merasa utuh dan cukup ketika kami saling curhat, membicarakan masalah sehari- hari, saling menginspirasi dan mendapatkan semangat dari satu sama lain.

Jika sudah begitu, saya tidak terlalu memikirkan apakah kami berkumpul di warung pinggir jalan atau cafe terkenal. Apakah kami makan gorengan atau steak. Semua terasa sama. Saya bahagia, saya merasa cukup.

Saya bukannya ingin bilang bahwa tak perlu jadi kaya dan punya banyak uang. Menjadi kaya dianjurkan bahkan dalam agama. Dengan menjadi kaya, kita punya lebih banyak kesempatan untuk menuntut ilmu, beribadah, menyantuni sesama dan menciptakan hal- hal baik untuk dunia.

Saya ingin menekankan, kekayaan materil harus diimbangi denga kekayaan moril. Kemampuan untuk menghayati dan mensyukuri setiap rezeki yang didapatkan. Kesadaran untuk tidak melupakan orang- orang yang selalu menyayangi dan mendukung kita dalam proses mendapatkan kekayaan itu. Keikhlasan untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan.

Menjadi kaya bisa saja mudah. Menyikapinya dengan bijak seringkali tak semudah itu.

Mendidik Sineas Kita; Say No to HorNo

Maret 18th, 2010 by muthie

Lebih baik sedikit terlambat daripada tidak sama sekali, saya baru menonton film “My Name is Khan” akhir minggu kemarin.

Film buatan Karan Johar yang diperankan oleh pasangan duet maut India; Shahrukh Khan dan Kajol ini diberitakan mencuri perhatian dunia perfilman internasional. Film ini mendapat penghargaan di Inggris dan tiket onlinenya terjual dalam waktu 5 detik di Jerman.

Semua itu layak. Disamping sinematorgafi, jalan cerita, skenario, kualitas akting, dan aspek- aspek pendukung lainnya yang layak diacungi jempol, film ini berani maju dengan pesan yang besar.

Lewat sosok Rizvan Khan, film ini menunjukan cara menghargai perbedaan, menghormati dan menolong orang lain, dan berjuang untuk cinta dan keluarga. Dengan latar belakang negara Amerika yang multikultur, mix bahasa Hindi dan Inggris yang unik, dan adegan serta dialog yang menginspirasi, film ini sungguh merupakan lompatan besar untuk dunia perfilman India. Salut.

Dan sementara Bollywood sudah mulai menjajah kancah internasional, perfilman Indonesia justru mundur ke zaman sekitar 3 dekade sebelum ini. Saya yakin Anda menyadari fenomena kemunculan film- film horno (horor porno :D) yang marak akhir- akhir ini. Judulnya, sebut saja, dari “Tali Pocong Perawan”, “Dendam Pocong Mupeng” hingga “Diperkosa Setan”.

Hanya dengan membaca judul dan menonton trailernya saja, sesungguhnya kita sudah dapat menyimpulkan bahwa film- film ini sesungguhnya adalah film sensual berkedok film horor. Adegan perempuan- perempuan topless, berbikini atau nyaris tidak berpakaian bisa dengan mudahnya kita temukan di film- film macam ini.

Tak perlu repot- repot bertanya tujuan si produser dan sutradara membuat film macam ini. Kita semua tahu isu seks akan mendatangkan sensasi, sensasi mendatangkan perhatian, dan perhatian mendatangkan uang. Tinggal selipkan beberapa adegan horor, lolos deh dari badan sensor!

Saya pribadi berpendapat bahwa pelaku industri media massa sesungguhnya dititipi amanat yang besar untuk mengedukasi para penontonnya. Mereka memiliki kekuatan dan kesempatan yang besar untuk menunjukan sesuatu yang dapat dilihat, dinikmati, diresapi, dipelajari bahkan diikuti oleh orang banyak. Saya yakin sudah sepantasnya mereka menggunakan amanat ini dengan bijak.

Sayangnya, saya rasa kita sama- sama bisa menilai bahwa para sineas horno ini sama sekali tidak berminat untuk mengedukasi kita sebagai penonton Indonesia. Jangankan repot- repot mengajari kita tentang kemanusiaan, kasih terhadap sesama dan berempati tanpa membedakan seperti yang dilakukan “My Name is Khan”, menunjukan contoh film yang bermutu saja mereka tidak sanggup.

Sinematografi kelas amatir, story line yang lebih tidak masuk akal dari science fiction, dan akting sekelas sandiwara 17an di RT saya. Maaf ya… tapi film- film horno ini benar- benar junk *emosi.

Saya rasa sudah waktunya kita, sebagai penonton, melakukan sesuatu. Jika para sineas ini tidak berminat medidik kita lewat film mereka, biar sekarang kita yang mendidik mereka.

Saya bukan ahli ekonomi, tapi saya yakin tidak akan ada supply jika tidak ada demand. Tak perlu repot- repot demo di bundaran HI atau menggrebek LSF untuk menolak film- film macam ini. Kita hanya tidak perlu menonton.

Dengan tidak menonton horno, kita telah menyelamatkan uang dan waktu kita dari tontonan yang sama sekali tidak bermutu dan tidak menghibur.

Dengan tidak menonton horno, kita menyampaikan pesan pada para sineas itu bahwa film- film seperti ini sama sekali tidak dihargai dan diinginkan.

Dengan tidak menonton horno, kita telah memberikan sumbangsih yang besar untuk menjaga kualitas dunia perfilman Indonesia.

Am I doing a propaganda here? well, probably. But I’m doing it with a good intention, anyway.


Saya rasa masih banyak film maupun literatur Indonesia yang lebih bermutu dan berpotensi mendunia juga suatu hari nanti. Film dan literatur seperti inilah yang lebih layak kita apresiasi dengan membeli tiket atau bukunya. Jadi, ayo mulai menjadi penonton yang lebih cerdas dan bijak memilih tontonan.

Kita adalah pasar, kita yang pegang kuasa, hehe.

Ayo selamatkan dunia perfilman Indonesia.

Beijing Review

Maret 12th, 2010 by muthie

I did an internship from AIESEC (international student organization) in Beijing, China, on September- November 2009.

Di sana, saya mengajar anak- anak SMU di Beijing no.9 High School, Moshikou Street, Shijingshan District, tentang Sustainable Development dan Bahasa Inggris.

Awalnya, saya ingin mengirim tulisan ini ke sebuah majalah cewek untuk sebuah rubrik referensi tempat- tampat hang out di luar negeri. Ternyata, mereka sudah pernah memuat edisi tentang Beijing. Daripada tulisannya mubazir, lebih baik saya upload disini. Siapa tahu bermanfaat kalau ada yang mau pergi ke Beijing dan mencari referensi tempat- tempat menarik disana.

<!– @page { margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Xidan


Xidan adalah salah satu hang out area favorit anak- anak muda Beijing. Disini ada banyak shopping centre yang menjual segala barang- barang fashion dengan harga miring (tapi harus nawar sih… hehe) seperti 77th Street dan Xidan Cultural Market. Kalau lapar, disini juga banyak street vendors yang menjual berbagai jajanan- jajanan yang enak. Sayangnya, toko- toko disini cuma buka sampai jam 9 malam aja.

Di Xidan juga ada Beijing Books Building yang merupakan salah satu book store paling besar di Cina. Di sini, kamu bisa menemukan buku- buku impor dengan harga lebih murah daripada di Indonesia.

Beijing Zoo

beijing-zoo2

Beijing Zoo is a definitely must- visited place. Cuma dengan 20Y, kamu bisa masuk ke one of the most famous zoo in the world ini. Selain punya koleksi panda babies yang lucu- lucu banget, Beijing Zoo juga punya banyak koleksi hewan- hewan unik lainnya, seperti hewan- hewan malam yang ditempatkan khusus di kandang yang gelap. Disini juga ada aquarium untuk hewan- hewan lautan, but you have to pay extra 40Y to get in.

beijing-zoo1

Tian ‘an men Square

Lapangan yang desainnya diadaptasi dari Red Square di Rusia ini adalah tempat berlansungnya banyak peristiwa penting di Cina. Nggak dipungut biaya untuk masuk ke sini, makanya setiap hari Tian ‘an men Square selalu penuh sama turis domestik dan mancanegara. Di sini juga ada Military Museum, Mao Zhe Dong Memoriam Hall, dan lain- lain yang bisa dikunjungi dengan membayar tiket ekstra.

dscn6261

Kalau kamu dateng kesini jam 7 pagi atau jam 5 sore, kamu bisa lihat upacara penaikan dan penurunan bendera di depan lapangan Tian ‘an men. Peserta upacaranya adalah para polisi pariwisata yang juga bertugas sebagai penjaga disana. Kita nggak boleh mengambil gambar para polisi pariwisata ini, *damn it, some of them were seriously cute.

Beijing Botanical Garden

botanical-garden1

Tempat ini oke banget untuk bersantai sambil baca buku dan minum kopi di sore hari. Soalnya, Beijing Botanical Garden berisi taman- taman bunga yang cantik banget. Kondisi tanaman- tanamannya yang sangat well maintained dan areanya yang well designed bikin kita betah lama- lama disini. Di dalem sini juga ada Consortium House yang menyimpan tanaman- tanaman langka dari seluruh dunia dan Butterfly House. Selain itu, disediakan juga area untuk camping.

botanical-garden2

Tiket masuknya Cuma 5 Y, tapi kalau kita menunjukan kartu pelajar, bisa jadi 2,5 Y aja lho.

Lama Temple

Lama Temple adalah kuil Buddha dengan influence dari Tibet. Di sini, kita bisa melihat Patung Buddha Matreeya, atau Buddha masa depan, setinggi 8 meter. Patung ini masuk Guinnes Book of Records sebagai patung Buddha tertinggi di dunia lho. Yang lebih unik, keseluruhan patung ini dibikin dari sebuah kayu utuh. Oh iya, disini kita juga boleh berfoto bareng biksu- biksunya.

img_2925

Lama temple terletak di Yonghegong Street. Tiket masuknya 25Y dan sayangnya nggak ada diskon pelajar disini.

Great Wall

Simbol kebanggaan negara Cina ini paling nyaman dikunjungi dengan ikut paket tur. Biaya turnya bervariasi antara 40- 100Y per orang. Biasanya, kita akan dibawa ke Great Wall di daerah Badaling yang memang sudah disiapkan sebagai tourist destination dan dikasih waktu sekitar 2 jam oleh tour organizer nya untuk menjelajah Great Wall.

img_2044

Kalau berkunjung ke sini, siap- siap aja untuk banyak jalan dan naik tangga. Soalnya, the best view of Great Wall baru bisa dilihat kalau kita udah naik ke puncaknya. Jangan bawa banyak barang dan siapin air minum, ya…

img_2041

Wangfujing

Wangfujing adalah tempat paling oke untuk beli souvenir khas Cina. Di sini, banyak banget dijual souvenir- souvenir lucu dengan harga miring. Dari yang biasa kayak gantungan kunci dan magnet, sampai playing cards, jam weker, sandal dan lain sebagainya. Tapi, kita harus berani menawar, karena para penjualnya cenderung ngasih harga tinggi untuk turis.

dscn6775

Di Wangfujing juga ada Foods Street, yang menjual macem- macem Chinese food yang unik. Paling unik adalah sate serangga. Yep, disini kamu bisa makan belalang, kepompong ulat sutera sampai kalajengking. Harganya mulai dari 20Y (30rb) per tusuk.

dscn6766

That’s all for now… semoga bermanfaat ^_^